Menu

Budidaya Jamur Tiram, Kuping dan Shiitake

May 18, 2017 | Tanaman Sayur

Budidaya jamur tiram, kuping dan shiitake memiliki beberapa keuntungan yaitu tidak memerlukan lahan yang luas. Sampah pertanian dari budidaya jamur tiram, kuping dan shiitake dapat diubah menjadi pupuk dan penggembur tanah. Berbagai macam teknik budidaya tiram, kuping dan shiitake telah dikembangkan dengan memperhatikan bahan baku yang tersedia di masing-masing daerah.

Jamur kayu merupakan salah satu jamur edible (dapat dimakan) yang banyak dikonsumsi masyarakat luas. Jamur ini memiliki rasa khas dan kandungan nutrisi yang tinggi. Jamur dapat dikonsumsi sebagai sayuran dan dapat juga diolah menjadi penganan, misalnya keripik dan kerupuk. Jamur tiram (Pleurotus sp.), jamur kuping (Auricularia auricularia) dan Shiitake (Lentinus edodes) termasuk jenis jamur kayu yang banyak dikonsumsi.

Tubuh buah jamur terdiri atas akar, batang (stipe), cincin dan tudung (pileus). Tudung terdiri atas bilah-bilah atau lamella yang pada permukaan bawahnya terdapat spora. Bagian yang dipanen adalah tubuh buah jamur.

Jamur kayu sarat akan gizi dan berkhasiat obat. Jamur tiram mengandung protein 31% dan protein yang dikandung jamur tiram mencakup asam amino esensial yang dibutuhkan oleh manusia. Enzim pada shiitake dapat menghasilkan asam amino yang mampu menurunkan hipertensi, mengurangi kolesterol, dan memperbaiki sirkulasi darah. Spora shiitake mampu meredakan efek serangan virus influenza dan menghambat pertum­buhan kanker. Selain itu shiitake juga mengandung vitamin BI, B12 dan D12, sedangkan lendir pada jamur kuping dipercaya dapat menetralkan kolesterol daiam darah.

Budidaya Jamur Tiram, Kuping dan Shiitake

Budidaya Jamur Tiram

Persiapan Budidaya Jamur tiram, Kuping dan Shiitake

Sebelum melakukan budidaya jamur tiram, kuping dan shitake perlu disiapkan rumah jamur dan media bibit induk.

Pembuatan Rumah Jamur (Kumbung)

Ukuran kumbung disesuaikan dengan kebutuhan yaitu dengan mempertimbangkan jumlah log/substrat tanam yang akan dibudidyakan. Untuk memelihara sekitar 500-1000 buah log/substrat tanam, diperlukan bangunan ukuran (panjang x lebar x tinggi) 6 m x 4 m x 4 m. Bangunan kumbung dapat dibuat dari kayu atau bambu, dengan lantai bata merah/batako, atap genting. Untuk budidaya jamur tiram dan jamur kuping dinding dapat dibuat dari bilik dan untuk budidaya jamur shiitake dapat berupa dua lembaran plastik jaring (kain kasa) berukuran kecil dan berwarna gelap.

Tahapan Pembuatan Media Bibit Induk (Spawn)

  • Siapkan bahan baku yang terdiri atas biji-bijian atau campuran serbuk kayu gergaji albasia (SKG) + biji millet dengan perbandingan l:l
  • Bahan-bahan tersebut dicuci dan direbus selama 30 menit menggunakan pressure cooker atau dengan panci
  • Setelah ditiriskan bahan tersebut ditambah dengan kapur (CaC03) 1%, gypsum (CaSO4) 1%, vitamin B kompleks dan atau bekatul 15%. Penambahan air dilakukan hingga mencapai kadar air 45-60%, dengan pH 7
  • Bahan tersebut dimasukkan ke dalam baglog polipropilen atau botol susu atau botol jam sebanyak 50-60% volume wadah, kemudian sumbat dengan kapas/kapuk dan tutup dengan kertas koran atau alumunium foil
  • Selanjutnya dilakukan sterilisasi menggunakan autoclave (pada suhu 121° C, tekanan 1 lb) selama 2 jam atau pasteurisasi selama 8 jam pada suhu 95°C.
  • Setelah suhu media bibit turun sampai suhu kamar, dilakukan inokulasi dengan bibit (berasal dari biakan murni pada media PDA) sebanyak 2-3 koloni miselium per botol bibit). Langkah ini dilakukan dalam laminar
  • Media yang telah diinokulasi, diinkubasikan dalam ruang inkubasi/inkubator pada suhu 22-28°C, selama 15-21 hari
  • Botol/baglog berisi bibit atau disebut spawn dikocok setiap 3 hari agar pertumbuhan miselium bibit jamur dapat merata dan cepat serta tidak menggumpal dan mengeras Setelah miselium jamur tumbuh kompak dan merata menutupi media, dapat digunakan sebagai bibit induk dan dapat disimpan daiam lemari pendingin bersuhu 4° C selama 1 tahun bila tidak akan segera digunakan.

Tahapan Produksi Budidaya Jamur Tiram, Kuping dan Shitake

Tahapan Budidaya Jamur Tiram dan Kuping

  • Serbuk kayu gergaji albasia direndam selama 12 jam (tergantung pada spesies/ strain yang digunakan)
  • Selanjutnya serbuk gergaji ditiriskan sampai tidak ada airnya dengan menggunakan saringan kawat/ayakan besar
  • Substrat/media tumbuh dibuat dengan cara menambahkan bekatul 5-15%, kapur (CaC03) 2%, gypsum (CaSCj,) 2% dan air bersih kemudian aduk hingga kadar air substrat mencapai 65% dan pH 7
  • Subtrat dimasukkan dalam baglog polipropilen, dipadatkan, dan diberi lubang pada bagian tengah diberi cincin dari paralon dan ditutup dengan kapas atau kertas minyak. Langkah 1-3 dilakukan pada hari yang sama
  • Satu hari kemudian, media tersebut disterilisasi atau dipasteurisasi dengan cara disimpan dalam kamar uap atau dalam drum dengan suhu media di dalam baglog 95° C selama 8 jam
  • Setelah suhu baglog turun sampai suhu kamar, lakukan inokulasi substrat dengan Inokulasi dilakukan dalam laminar. Jumlah bibit yang digunakan 10-15 g/kg.
  • Baglog yang telah diinokulasi dengan spawn diinkubasi dalam rumah jamur/kumbung. Ruang inkubasi dijaga agar tetap kering dan bersih, pada suhu 22-28° C tanpa cahaya. Inkubasi berfangsung 15-30 hari
  • Setelah 7-15 hari baglog dan cincin dibuka
  • Setelah tumbuh bakal tubuh buah, dilakukan penyiraman dengan air bersih agar jamur dapat tumbuh. Untuk budidaya jamur tiram yang disiram rumah jamurnya, sedang untuk budidaya jamur kuping penyiraman langsung dilakukan pada substrat hingga basah. Suhu rumah jamur dijaga 16-22°C dengan kelembaban 80-90%

Tahapan Budidaya Jamur shiitake

  • Serbuk kayu gergaji sebanyak 85 kg yang berasal dari kayu keras (jati, karet atau dicampur dengan albasia) direndam selama 12 jam
  • Setelah itu serbuk kayu ditiriskan sampai tidak ada airnya menggunakan saringan kawat/ ayakan besar
  • Tambahkan bekatul/polar-pakan ayam DOC 7,5 kg, menir/broken rice 4 kg, kapur (CaC03) 1,5 kg, gypsum (CaSOs) 2 kg dan air bersih kemudian aduk merata hingga kadar air substrat mencapai 65% dan pH 7
  • Subtrat dimasukkan dalam baglog polipropilen, dipadatkan, dan diberi lubang pada bagian tengah diberi cincin dari paralon dan ditutup dengan kapas atau kertas minyak
  • Media tersebut disterilisasi atau dipasteurisasi dengan cara disimpan dalam kamar uap atau dalam drum dengan suhu media di dalam baglog 95° C selama 8 jam. Langkah 1-5 dilakukan pada hari yang sama.
  • Setelah suhu baglog turun sampai suhu kamar, lakukan inokulasi substrat dengan spawn. Inokulasi dilakukan dalam laminar. Jumlah bibit yang digunakan 10-15 g/ kg media
  • Baglog yang telah diinokulasi dengan spawn diinkubasi dalam rumah jamur/kumbung. Ruang inkubasi dijaga agar tetap kering dan bersih, pada suhu 22-27° C tanpa cahaya, RH 95-100%, C02 > 10.000 ppm, 02 0-1 jam (kapasitas ter­pasang). Inkubasi umumnya berlangsung 8-12 minggu
  • Setelah 7-15 hari baglog dibuka/dipotong bagian atasnya, dan cincin serta sumbat kapas dibuka. Cara membuka baglog berbeda-beda, yaitu dengan dibuka lebar bertahap mengikuti terjadinya browning atau dibuka sekaligus setelah browning >75%
  • Setelah tumbuh bakal tubuh buah, dilakukan penyiraman dengan air bersih agar jamur dapat tumbuh. Penyiraman dengan cara pengabutan 3 kali sehari dengan air secukupnya. Suhu rumah jamur dijaga 21-27° C dengan kelembaban 60-80%, cahaya 500-2000 lux (dengan lampu atau jendela dibuka), ventilasi 4-8 jam dan C03 < 1000 ppm

Panen dan Pascapanen

Pada budidaya jamur tiram dan kuping, panen dapat dilakukan lebih dari 9 kali dalam waktu 3 bulan tergantung pada cara pemeliharaan/ penyiraman jamur dan kebersihan kumbung. Panen dilakukan 2-3 kali dalam seminggu

Kesegaran jamur tiram dan jamur kuping dapat dipertahankan dengan cara menyimpan pada suhu 1-5° C dan melakukan penyemprotan menggunakan larutan Na-bisulfat 0,1-0,2% (1000-2000 ppm). Pengawetan jamur dapat dilaku­kan dengan cara pengeringan, pengasapan dan pemberian senyawa kimia (garam dapur, asam sitrat, sulfida, K-bikarbonat dan K-meta-bisulfida)

Panen jamur shiitake dapat dilakukan lebih dari 5 kali dalam waktu 5-8 bulan ter­gantung pada cara pemeliharaan/penyiraman jamur, kebersihan kumbung dan strain yang digunakan. Penanganan pascapanen jamur shiitake dilakukan dengan langkah-langkah yang sama seperti pada jamur tiram dan jamur kuping. Sumber: Balitsa

Comments

comments

tags:

Artikel terkait Budidaya Jamur Tiram, Kuping dan Shiitake