Menu

Budidaya Kedelai di Lahan Salin Hasil 1,3 ton/ha

May 29, 2017 | Tanaman Pangan

Peningkatan areal tanam budidaya kedelai menjadi salah satu kunci peningkatan produksi kedelai. Perluasan areal tanam budidaya kedelai ke lahan salin dapat menjadi alternatif pengembangan kedelai. Lahan tersebut mengandung garam terlarut tinggi yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman kedelai.

Salinitas adalah salah satu bentuk cekaman abiotik yang mengancam keberlanjutan pertanian hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Peningkatan salinitas tanah dapat terjadi dari hasil pelapukan batuan induk tanah, proses salinisasi, intrusi air laut, penggunaan pupuk kimia berlebihan, pengairan intensif dengan air yang mengandung garam, pembukaan hutan, serta pencemaran bahan kimia. Tanah dikategorikan salin apabila mempunyai konduktivitas/daya hantar listrik (electrical conductivity, EC atau DHL) dari ekstrak pasta tanah jenuh (ECe) >4 dS/m (mmho/cm) setara dengan 40 mM NaCl per liter serta persentase Natrium dapat ditukar <15%.

Data FAO (2014) menunjukkan bahwa lebih dari 800 juta hektar (lebih dari 6%) lahan pertanian di dunia telah dipengaruhi oleh garam (tanah salin dan sodik). Lahan salin di Indonesia diperkirakan seluas 440.300 ha, dan akan terus bertambah luas akibat dampak pemanasan global.

Pengaruh Salinitas Pada Tanaman Kedelai

Cekaman salinitas berpengaruh negatif terhadap terhadap budidaya kedelai pada pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai karena rendahnya potensial osmotik larutan tanah, ketidakseimbangan unsur hara, pengaruh ion spesifik, dan kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Kadar garam tanah yang tinggi berpengaruh erhadap fisiologi dan biokimia tanaman hingga ke tingkat molekuler tanaman. Akumulasi ion Na dan Cl pada konsentrasi meracun menyebabkan daun berwarna kuning/klorosis, nekrosis serta tepi daun mengering dan mengulung.

Kedelai termasuk tanaman yang agak peka terhadap cekaman salinitas. Pada budidaya kedelai cekaman salinitas berat terjadi perontokan daun, bunga serta kegagalan pengisian polong bahkan kematian tanaman. Ambang batas salinitas untuk kedelai adalah 5,0 dS/m. Hasil kedelai turun 20% pada DHL tanah 4,0 dS/m, dan turun 50% pada 7,5 dS/m dari kondisi normal.

budidaya kedelai di lahan salin

budidaya kedelai

Teknologi Budidaya Kedelai pada Lahan Salin

Teknologi budidaya kedelai ini disusun berdasarkan hasil penelitian pada lahan salin di Lamongan dengan DHL 10-15 dS/m.

  1. Lahan dibersihkan dari sisa tanaman se-belumnya.
  2. Tanah diolah ringan dengan ajak/rotari, atau tanpa olah tanah.
  3. Saluran drainase dibuat setiap 3 m.
  4. Gunakan varietas Anjasmoro atau calon Varietas unggul kedelai GH K13 (toleran salin hingga DHL tanah sekitar 15 dS/m).
  5. Jarak tanam 40 cm x 10-15 cm, 2-3 tanaman/ rumpun.
  6. Dosis pupuk 75 kg Urea + 100 kg SP36 + 50 kg KCl per ha (setara 200 kg Phonska + 25 kg SP36).
  7. Mulsa jerami 3,5 t/ha (bila tersedia). Pemulsaan mencegah peningkatan DHL tanah selama per-tumbuhan tanaman.
  8. Lakukan ameliorasi tanah dengan salah satu bahan sebagai berikut (disebar bersamaan atau setelah pengolahan tanah): a) 750 kg S/ha, b) 5 t/ha gipsum pertanian, c) 5 t/ha pupuk kandang dan d) 1,5 t/ha gipsum + 5 t/ha pupuk kandang.
  9. Pengairan sesuai kebutuhan. Air dengan DHL 4,0dS/m masih dapat digunakan untuk pengairan.
  10. Pengendalian gulma, hama dan penyakit sesuai kebutuhan.
  11. Panen bila 95% polong telah berwarna coklat

Budidaya kedelai di tanah salin menjadi alternatif untuk pengembangan kedelai pada lahan salin dengan pola tanam padi–kedelai. Lahan yang biasanya bero setelah panen padi dapat ditanami kedelai sehingga Intensitas Pertanaman (IP) meningkat dari IP100 (padibero) menjadi IP200 (padi-kedelai). Peningkatan IP diharapkan meningkatkan pendapatan petani. (sumber: Balitkabi)

Comments

comments

tags:

Artikel terkait Budidaya Kedelai di Lahan Salin Hasil 1,3 ton/ha