Menu

Budidaya Buah Naga Organik, Hasil Melimpah

May 9, 2017 | Tanaman Buah

Budidaya buah naga mudah dilakukan karena tanaman buah naga (Hylocerous undatus sp) seperti tanaman katus, sangat mudah hidup meskipun pada tanah kurang subur. Tanaman buah naga yang dibudidayakan akan diambil buahnya untuk dikonsumsi, maka perlu diupayakan dan dijaga agar buah naga aman dikonsumsi. Salah satu caranya dengan budidaya buah naga organik. Budidaya buah naga organik merupakan proses bertanam dengan menggunakan bahan alami (organik) dan menghindari penggunaan bahan kimia atau jika menggunakan bahan-bahan kimia sangat dibatasi dalam jumlah sedikit saja.

Bahan kimia yang digunakan dalam proses budidaya tanaman untuk mendukung pertumbuhan tanaman, baik sebagai pupuk, zat pengatur tumbuh, pestisida dan lainnya akan berdampak buruk terhadap kesehatan, kelestarian lingkungan, dan ekonomi.

Dampak buruk terhadap kesehatan, penggunaan pestisida kimia yang berlebihan dalam proses budidaya tanaman dapat menimbulkan residu atau endapan pada produk tanaman, dan jika produknya dikonsumsi akan membahayakan bagi kesehatan manusia, antara lain: pemicu kanker otak, leukemia pada anak-anak, syaraf -lumpuh, hati, ginjal, darah tinggi, kulit bercak-bercak hitam, bayi lahir cacat, dan bibit sumbing. Sedangkan dampak buruk terhadap kelestarian lingkungan, penggunaan pestisida kimia yang berlebihan dalam waktu yang lama dapat mematikan serangga-serangga musuh alami hama penyakit tanaman.

Selain itu hama penyakit tanaman ada yang resisten terhadap pestisida tertentu, sehingga akan berkembang dan akan menambah jumlah yang lebih banyak lagi. Demikian juga dapat mematikan biota tanah, seperti cacing tanah dan lainnya, mengakibatkan tekstur tanah menjadi keras dan kesuburan tanah akan menurun. Banyaknya serangan hama penyakit dan turunnya kesuburan tanah dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan akan menurunkan produksi tanaman. Kemudian dampak buruk terhadap ekonomi, antara lain: pupuk kimia akan berpengauh terhadap rasa buah naga yang kurang enak dan daya simpan pendek, sehingga murah harganya dan sulit dijual. Selain itu, penggunaan pupuk kimia dalam budidaya tanaman akan memerlukan bia’ya produksi lebih mahal. Oleh karena itu, tanaman buah naga lebih baik dibudidayakan dengan cara organik yang mempunyai kebaikan sebagai berikut: aman dikonsumsi, rasanya lebih manis, menghasilkan buah lebih banyak serta lebih padat, daya simpan lebih lama, dan biaya produksi lebih murah.

Tanaman Buah Naga

Budidaya Buah Naga Organik

Budidaya Buah Naga Organik

Perbedaan utama proses budidaya buah naga organik dengan anorganik, antara lain pada kegiatan pemilihan lokasi, penyiapan bibit, pengolahan tanah, penanaman, pemupukan susulan, dan pengendalian OPT. Sedangkan kegiatan lainnya sama dengan budidaya buah naga pada umumnya.

  1. Pemilihan Lokasi

Tanaman buah naga akan tumbuh baik dan berproduksi optimal pada kondisi alam yang sesuai, yaitu pada ketinggian 0 – 350 meter dari permukaan air laut, curah hujan sekitar 720 mm per tahun, suhu udara ideal berkitar 26 – 36° C, kelembaban 70 – 90%, dan rata-rata pH tanah antara 6,5 – 7. Oleh karena itu, pilihlah lokasi untuk budidaya buah naga yang sesuai dengan kondisi alam tersebut atau yang mendekatinya dan sudah dua tahun tidak untuk budidaya tanaman non organik atau menggunakan bahan kimia.

  1. Penyiapan Bibit Buah Naga

Bibit adalah bagian dari tanaman untuk’ diperbanyak atau ditanam, pada umumnya berupa biji atau setek. Perbanyakan buah naga ada dua cara, yaitu generatif dan vegetatif. Cara perbanyakan generatif adalah menanam dengan menggunakan biji buah naga, keuntungannya dapat diperoleh bibit dalam jumlah banyak dan biaya murah, karena setiap buah minimal berisi 1.000 biji. Namun cara ini jarang dilakukan oleh petani karena membutuhkan waktu sangat lama dan lebih sulit jika dibandingkan dengan cara tanam vegetatif. Di samping itu untuk mendapatkan biji bernas serta berkualitas juga agak sulit, karena harus dibutuhkan buah yang benar-benar tua serta sehat. Seleksi biji berkualitas juga sulit dilakukan karena ukuran bijinya sangat kecil bahkan memiliki penampakan sama. Oleh karena itu, pada umumnya petani melakukan perbanyakan atau menanam dengan cara vegetatif yaitu bertanam buah naga dengan menggunakan bibit setek berupa potongan batang atau cabang sepanjang 25 – 30 cm. Perbanyakan vegetatif ini membutuhkan biaya mahal, tetapi tingkat keberhasilannya lebih tinggi dan pemeliharaan dibutuhkan waktu lebih singkat. Selain itu hasil bibit tanaman tidak jauh menyimpang dari induknya.

Bibit merupakan faktor penentu untuk mendapatkan produksi tanaman yang optimal dalam budidaya buah naga, maka harus dipilih bibit buah naga yang bermutu baik, yaitu dari varietas unggul, tumbuh bagus, tua, dan sehat bebas dari hama penyakit. Mutu bibit juga bisa dilihat dari kualitas induk, jika bibit diambil tanaman yang tumbuhnya bagus dan mempunyai buah bagus, maka besar kemungkinan bibit tersebut memiliki sifat tidak banyak beda dengan induknya. Untuk budidaya buah naga organik, sebaiknya bibit buah naga diambil dari induk dari hasil budidaya buah naga organik.

Cara membuat bibit setek buah naga yang bermutu baik, sebagai berikut:

  • Pilihlah batang atau cabang tanaman buah naga yang sehat, tua, berwarna hijau gelap, sudah pernah berbuah 3-4 kali, memiliki panjang sekitar 80-120 cm, bergaris tengah minimal 8 cm, dan keras. Semakin besar batang yang dipilih akan semakin baik, karena akan menjadi batang utama tanaman buah naga.
  • Batang atau cabang yang terpilih dipotong 80% (4/5 bagian) sehingga sisanya sekitar 20% (1/5 bagian); Potongan batang atau cabang 80%, dipotong-potong lagi dengan panjang antara 25 – 30 cm dan setiap potongan setek harus memiliki paling sedikit empat mata tunas.
  • Cara memotongnya, batang bagian atas dipotong rata dan bagian bawah dipotong meruncing untuk merangsang pertumbuhan akar. Cara memotong meruncing, sepanjang 1-2 cm di salah satu sisi batang dipotong miring ke arah batang pokok.
  • Setek yang sudah dipotong-potong dikering anginkan sampai getahnya mongering sekitar 2-3 hari, jika langsung ditanam getah yang basah dapat menyebabkan busuk batang.
  • Selanjutnya pembibitan buah naga dapat dilakukan pada bedengan atau polibag.

Pembibitan pada bedengan

Bedengan dibuat setinggi 15 cm, lebar 100 cm dan panjangnya sesuai kondisi lahan. Pada permukaan bedengan taburkan campuran 10 kg pasir, 10 kg pupuk kandang yang sudah matang, dan 250 gram kapur dolomit. Lalu bedengan dicangkul dengan kedalaman sekitar 15 cm dan diratakan, serta dibiarkan selama 1 hari.

Selanjutnya, bedengan disiram dengan air yang tidak deras secara merata dan segera setek ditanam di atas bedengan, dengan jarak tanam sekitar 40 x 60 cm dan kedalaman sekitar 5 cm. Pembibitan ini harus dirawat dengan diberi naungan plastik dan disiram 2-3 hari sekali. Penyiraman dapat menggunakan hand sprayer, karena penyiraman harus secara hati-hati atau jangan terlalu deras, agar setek tidak roboh. Keberhasilan pembibitan tersebut dapat diketahui 3 bulan setelah setek ditanam yang ditandai dengan tubuhnya akar dan setek sehat, vigor dan kekar. Lalu naungan plastik dibuka agar setek terkena sinar matahari langsung.

Sekitar dua minggu kemudian, setek akan tumbuh tunas cabang. Jika cabang tumbuh lebih dari satu secara bersamaan, pilihlah satu tunas cabang yang sehat, lebih beras dan kokoh. Potong tunas cabang yang tidak dipilih, sehingga tinggal satu tunas cabang yang dipertahankan dan jika tumbuh tunas cabang baru harus segera dipotong. Pemotongan gunakan gunting pangkas yang steril untuk mencegah kontaminasi bakteri. Bibit siap ditanam di kebun saat berumur antara 3-5 bulan.

Pembibitan pada polibag

Siapkan polibag untuk pembibitan buah naga berukuran 15 cm x 20 cm. Campurkan sampai rata media tanam berupa tanah, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Polibag diisi campuran media tersebut yang tidak terlalu penuh dan siap untuk menanam setek buah naga.

Menanam setek pada polibag dengan cara, media dalam polibag disiram dengan air dan segera tancapkan setek bagian yang runcing dengan posisi tegak sedalam 5 cm ke dalam media tanam. Berikan naungan untuk melindungi setek dari sengatan matahari dan lakukan penyiraman setiap 2-3 hari sekali. Selama pembibitan kondisi media harus dijaga agar tidak kekeringan. Sekitar 3 minggu, tunas cabang mulai tumbuh dan naungan harus dibuka agar bibit mendapatkan cahaya matahari penuh. Namun jika kondisi hujan, plastik sungkup tetap dibiarkan menutupi bibit agar media penanaman tidak terlalu basah. Selanjutnya lakukan pemeliharaan dengan memotong tunas cabang yang kurang bagus dan sisakan satu tunas saja yang bagus untuk batang pokok. Bibit siap ditanam di kebun saat berumur antara 3-5 bulan.

Cara pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan buah naga

Cara pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan dengan menjaga sanitasi lingkungan, baik di bedeiigan maupun polibag. Kelembaban di sekitar pembibitan harus selalu dijaga agar bibit setek tidak mengalami kekeringan. Namun saat menyiram, harus dihindari pemberian air secara berlebihan agar tidak terjadi genangan air, karena genangan berpotensi menimbulkan serangan penyakit, terutama penyakit akar. Penyiraman bibit bisa dilakukan setiap pagi saja sampai benar-benar lembab agar keesokan harinya kondisi tanahnya masih cukup untuk pertumbuhan bibit tanaman. Namun, jika siang hari matahari sangat terik, penyiraman bisa dilakukan lagi sore harinya secukupnya saja agar saat malam hari kelembaban tanahnya tidak terlalu tinggi. Gulma di sekitar areal pembibitan juga harus dibersihkan agar tidak terjadi persaingan dalam memperoleh intensitas sinar matahari maupun penyerapan unsur hara. Selain itu, gulma di sekitar areal pembibitan juga berpotensi menjadi inang hama dan penyakit. Jika bibit terserang hama penyakit lakukan pengendalian secara terpadu. Jika serangan ringan, pengendalian hama penyakit cukup dilakukan secara manual. Sebagai pencegahan, lakukah penyemprotan rutin menggunakan pestisida organik maupun agensia hayati 1 minggu sekali.

  1. Pengolahan Tanah

Lahan yang akan ditanami buah naga dibersihkan dari kotoran non organik, antara lain batu-batuan, plastik, kaleng bekas, dan lainnya. Jika terdapat rumput atau semak, harus dipotong sampai pangkal batang, hasil potongannya dimasukkan dalam lubang yang telah digali, lalu dibakar agar hama dan penyakit yang ada dapat dimusnahkan.

Selanjutnya tanah dicangkul sedalam satu cangkulan, kemudian dibolak-balik agar tanah menjadi gembur dan diratakan. Kemudian dibuat lubang-lubang untuk berdirinya tiang penompang dengan kedalaman sekitar 50 cm dan lebar sama dengan panjang 12×12 cm. Jarak antar lubang tanam 2 m dan jarak antar baris tanaman 2,5 m. Lubang siap dipasang tiang penompang (caranya lihat di atas). Di antara baris lubang dibuat parit sedalam 20 cm, agar air dapat mengalir dan tidak tergenang di kebun. Kemudian sekitar lubang tiang penompang dibuat lubang tanam sedalam 15 cm dan berdiameter/garis tengah 150 cm.

Selanjutnya membuat media tanam, dengan mencampurkan tanah lapisan atas, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Lalu media tanam dimasukkan ke dalam lubang tanam dan disiram, dibiarkan terkena sinar matahari sekitar satu minggu agar tanah terbebas dari racun. Penyiraman hanya dilakukan pada lubang tanam saja.

  1. Penanaman Buah Naga

Penanaman merupakan kegiatan memindahkan bibit buah naga dari bedengan atau polybag ke lahan/kebun yang sudah diolah tanahnya. Budidaya bibit buah naga memerlukan bahan dan alat sebagai berikut: bibit buah naga, dolomit untuk mencegah terjadinya pembusukan pangkal batang setek, cetok digunakan untuk membuat lubang tanam, tali untuk mengikat bibit pada tiang penompang.

Sebelum bibit buah naga ditanam di kebun, pada setiap tiang penopang dibuat empat lubang tanam yang letaknya melingkar dengan jarak dari tiang penompang 10 cm dan kedalaman 10 -15 cm. Setiap lubang diberi pupuk kandang sebanyak 5 – 10 kg yang dicampur tanah, lalu diamkan. Setelah sekitar dua minggu bibit setek buah naga dapat ditanam pada lubang yang telah dipersiapkan. Cara budidaya buah naga, pilihlah bibit setek yang berkualitas bagus dari pembibitan dan langsung ditanam dalam lubang tanam. Lakukan pemindahan bibit dari pembibitan (bedengan atau polibag) dengan hati-hati agar akar tidak banyak yang rusak dan setek yang rusak akan mengakibatkan tanaman mudah terserang penyakit busuk batang. Kedalaman pertanaman 20% dari panjang setek, jika bibit setek panjangnya 50-80 cm bagian yang dimasukkan dalam lubang 10 – 15 cm, tetapi jika panjang bibit setek kurang dari 50 cm bagian yang dimasukkan dalam lubang 4-8 cm. Lalu bibit setek diikat tidak terlalu erat pada tiang panjatan agar merambat dapat dengan baik pada tiang penompang, lalu lakukan penyiraman.

  1. Pemupukan Susulan Buah Naga

Budidaya buah naga organik hanya menggunakan bahan-bahan organik seperti pupuk kandang (dari kotoran sapi, kambing) dan kompos tanpa menggunakan pupuk kimia (seperti NPK, Urea, TSP dll).

Pupuk kandang diberikan sebanyak 2 – 5 kg per tanaman setiap 2 – 3 bulan sekali. Caranya, gali lubang pupuk di sekitar tanaman, lalu taburkan pupuk kandang atau kompos dan segera ditutup dengan tanah lagi dan segera siram agar pupuk mudah terserap oleh tanaman. Menjelang pembungaan antara bulan Agustus – September, berikan pupuk kandang yang mengandung banyak kalium seperti kotoran kambing. Pupuk kandang yang kaliumnya tinggi saat pembentukan buah membantu tanaman membentuk sulur produktif dan rasa buah yang manis. Pada saat berbuah, pupuk kandang diberikan sebulan sekali dengan dosis 5 – 10 kg per tanaman.

  1. Pengendalian OPT

Tanaman buah naga tahan terhadap serangan penyakit, namun bisa terserang penyakit jika sanitasi kebun tidak dijaga dengan baik. Tanaman yang terserang penyakit harus segera dilakukan penanganan, agar tidak menyebar ke tanaman lain. Untuk mencegah serangan hama dan penyakit tanaman buah naga, lakukan sanitasi atau pembersihan kebun/lahan dan pengendalian gulma. Kebun yang kotor memudahkan penyakit menyerang tanaman seperti busuk batang dan hama lalat buah pada saat mulai berbuah. Kebersihan kebun dapat dilakukan dengan menyiang rumput secara teratur di sekitar tanaman buah naga dan tidak membiarkan sampah seperti bekas pangkasan tanaman menumpuk di kebun. Tumpukan bekas pangkasan bisa menjadi sarang lalat buah dan bekicot. Berikan garam di sekitar pangkal pohon untuk mencegah serangan bekicot. Lakukan pengamatan secara rutin seminggu sekali terhadap OPT utama. Kenali dan identifikasi/temukan gejala serangan, jenis OPT, dan musuh alaminya. Untuk mengenali hama atau penyebab penyakit konsultasi dengan petugas Pengamat Hama dan Penyakit (PHP)/POPT/Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit/ Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH).

Berikut beberapa penyakit utama pada budidaya buah naga berikut cara pengendaliannya:

  1. Penyakit Busuk Pangkal Batang

Penyakit busung pangkal batang umumnya menyerang saat awal penanaman. Gejala serangan ditandai adanya pembusukan di pangkal batang sehingga menyebabkan batang berair serta berwarna kecokelatan. Di daerah terserang terdapat bulu-bulu putih halus yang merupakan miselium cendawan. Penyakit ini disebabkan oleh serangan cendawan Sclerotium rolfsii Sacc. (lebih sering menyerang tanaman saat cuaca lembab).

Upaya pengendalian Penyakit busuk pangkal batang pada buah naga dapat dilakukan dengan pengaturan drainase maupun kelembaban saat musim hujan. Penyemprotan tanaman menggunakan pestisida nabati, seperti daun serai, bawang putih, kunyit, serta bawang merah. Bahan-bahan tersebut direbus lalu disemprotkan pada seluruh bagian tanaman. Upaya lainnya dengan memanfaatkan agensia hayati, seperti Trichoderma sp. atau Gliocldium sp.

2. Penyakit Busuk Bakteri

Serangan penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Pseudomonas sp. Gejala tanaman terserang penyakit busuk bakteri ditandai adanya pembusukan pangkal batang, terdapat lendir putih kekuningan di daerah serangan, serta tanaman tampak kusam hingga layu.

Pengendalian terhadap serangan penyakit busuk bakteri ini dilakukan dengan melakukan sanitasi kebun secara rutin, perbaikan drainase untuk mencegah adanya genangan air, pencabutan tanaman terserang, serta membuang tanah di sekitar titik tanam dari areal budidaya buah naga. Usahakan pembuangan tanah tersebut jangan sampai tercecer. Lubang bekas titik tanam ditaburi kapur agar pH tanah lokal meningkat. Penyemprotan tanaman menggunakan pestisida nabati, seperti daun serai, bawang putih, kunyit, serta bawang merah. Bahan- bahan tersebut direbus lalu disemprotkan ke seluruh bagian tanaman. Upaya lainnya adalah memanfaatkan agensia hayati, seperti Trichoderma sp. maupun Gliocldium sp.

3. Fusarium

Penyakit ‘ini disebabkan oleh cendawan Fusarium oXysporium. Gejala serangan terlihat cabang tanaman berkerut, layu, lalu membusuk berwarna cokelat. Secara umum gejala yang tampak hampir sama dengan serangan penyakit busuk bakteri.

Pengendalian terhadap serangan penyakit Fusarium oxysporium pada budidaya buah naga organik dilakukan dengan melakukan sanitasi kebun secara rutin, perbaikan drainase untuk mencegah adanya genangan air, pencabutan tanaman terserang, serta membuang tanah di sekitar titik tanam dari areal budidaya buah naga. Usahakan pembuangan tanah tersebut jangan sampai tercecer. Lubang bekas titik tanam ditaburi kapur agar pH tanah lokal meningkat. Penyemprotan tanaman menggunakan pestisida nabati, seperti daun serai, bawang putih, kunyit, serta bawang merah. Bahan-bahan tersebut direbus lalu disemprotkan ke seluruh bagian tanaman. Upaya lainnya adalah memanfaatkan agensia hayati, seperti Trichoderma sp. maupun Gliocldium sp.

Sedangkan hama utama pada budidaya buah naga meliputi: tungau, kutu putih, kutu batok, kutu sisik, bekicot, semut, uret, belalang kayu, orong-orong, ulat grayak, burung/codot.

  1. Hama Tungau (Tetranycus sp.)

Hama Tungau berukuran sangat kecil, berbentuk menyerupai laba-laba serta bersifat polyfag, yaitu menyerang hampir segala jenis-tanaman. Serangga dewasa berukuran kurang lebih 1 mm. Hama tungau aktif di siang hari. Siklus hidup tungau diselesaikan antara 14-15 hari. Hama tungau menyerang tanaman buah naga dengan cara menghisap cairan batang maupun cabang. Akibatnya di permukaan kulit batang atau cabang tanaman terserang akan muncul bintik-bintik kuning atau cokelat. Serangan berat akan menyebabkan tanaman buah naga tumbuh tidak normal. Pengendalian hama tungau pada budidaya buah naga organik bisa dilakukan penyemprotan menggunakan pestisida nabati 3-4 hari sekali, seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut. Untuk memulihkan tanaman terserang hama tungau diberikan nutrisi tanaman organik, baik melalui akar (melalui pengocoran), maupun melalui tubuh

2. Hama Kutu Kebul (Bemisia tabaci)

Salah satu hama utama buah naga adalah kutu kebul. Imago serangga dewasa berukuran 1-1,5 mm, berwarna putih, serta sayapnya ditutupi lapisan lilin bertepung. Serangga dewasa biasanya berkelompok di permukaan bagian bawah cabang. Jika tanaman disentuh biasanya serangga akan beterbangan seperti kabut (kebul putih). Gejala serangan kutu kebul pada tanaman buah naga ditandai adanya bercak nekrotik akibat rusaknya sel-sel serta jaringan tanaman pada batang atau cabang terserang. Ekskresi kutu kebul berupa madu yang merupakan media tempat tumbuhnya embun jelaga yang berwarna, hitam. Hal ini menyebabkan proses fotosintesis berlangsung tidak normal. Selain kerusakan langsung pada tanaman, hama kutu kebul merupakan serangga sangat berbahaya karena berperan sebagai vektor penular virus tanaman. Kerugian akibat serangan kutu kebul dapat mencapai 20-100%. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 60 jenis virus yang berpotensi ditularkan oleh kutu kebul. Pengendalian hama kutu kebul pada budidaya buah naga organik dapat dilakukan secara kultur teknis, yaitu menerapkan metode strip-planting (penerapan tanaman perangkap). Tanaman perangkap bisa ditanam mengelilingi areal budidaya buah naga sehingga membentuk pagar yang rapat. Beberapa tanaman yang efektif digunakan sebagai perangkap hama kutu kebul antara lain, jagung, bunga matahari, kacang panjang, maupun buncis. Selain penerapan strip planting, pengendalian gulma juga harus dilakukan secara rutin. Gulma sangat berpotensi sebagai inang kutu kebul.

Untuk mengurangi populasi serangga bisa-melakukan pemasangan alat perangkap yellow trap sebanyak 40 buah/ha. Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami hama kutu kebul, antara lain sebagai berikut:

  • Kumbang predator Menochilus sexmaculatus (Coccinelidae) yang memiliki siklus hidup 18-24 hari memiliki kemampuan memangsa nimfa kutu kebul sebanyak 200-400 ekor. Satu ekor kumbang betina mampu menghasilkan telur sebanyak 3.000 butir.
  • Parasitoid Encarcia formosa, satu ekor serangga betinanya mampu menghasilkan telur sebanyak 100-200 butir.

Penyemprotan pestisida nabati seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rum­put laut harus dilakukan secara rutin (interval penyemprotan 3-4 hari sekali). Untuk memperkuat kondisi tanaman agar mampu bertahan dari infeksi virus yang ditularkan oleh hama kutu kebul maka diperlukan penyemprotan mengunakan nutrisi organik secara rutin, interval penyemprotan setiap 7 hari sekali. Pemberian nutrisi organik bertujuan memberikan asupan yang cukup pada tanaman, sehingga tanaman tetap sehat. Tanaman sehat memiliki daya tahan baik dari serangan hama dan penyakit.

3. Hama Kutu Sisik (Pseudococcus s p.)

Hama ini lebih menyukai bagian batang atau cabang tanaman buah naga yang tidak terkena sinar matahari. Batang atau cabang tanaman terserang akan telihat kusam.

Pengendalian hama Peudococcus s p. pada buah naga bisa dilakukan penyemprotan menggunakan pestisida nabati 3-4 hari sekali, seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut. Untuk memulihkan tanaman terserang, berikan nutrisi tanaman organik, baik melalui akar (melalui pengocoran), maupun melalui tubuh tanaman (melalui penyemprotan).

4. Hama Kutu Batok (Aspidiotus sp.)

Hama kutu batok menyerang tanaman buah naga dengan cara mengisap cairan batang atau cabang, sehingga bagian tanaman terserang berwarna kuning.

Pengendalian hama (Aspidiotus sp.) pada budidaya buah naga organik bisa dilakukan penyemprotan menggunakan pestisida nabati 3-4 hari sekali, seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut. Untuk memulihkan tanaman terserang, berikan nutrisi tanaman organik, baik melalui akar (melalui pengocoran), maupun melalui tubuh tanaman (melalui penyemprotan).

5. Bekicot

Hama bekicot menyerang tanaman buah naga terutama ketika musim hujan. Bekicot menyerang tanaman buah ini di malam hari dengan cara menggerogoti batang atau cabang tanaman sehingga bagian tanaman terluka berpotensi terinfeksi oleh penyakit sekunder. Penyakit sekunder bisa disebabkan oleh fungi maupun bakteri.

Pengendalian hama bekicot bisa dilakukan secara fisik yaitu melakukan pengontrolan lahan, mengambil berkicot yang menempel di tanaman (cara ini lebih efektif dilakukan saat malam hari, karena bekicot memiliki aktifitas tinggi di malam hari).

6. Burung

Gangguan burung umumnya jarang terjadi sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Biasanya hama burung menyerang buah masak. Pengendalian hama ini cukup melakukan pemanenan tepat waktu agar dapat mengurangi resiko serangan burung tersebut.

7. Semut

Umumnya, semut akan muncul saat tanaman buah naga mulai berbunga. Bunga memiliki aroma khas serta mengeluarkan cairan berasa manis. Hama semut menyerang dengan mengerubungi bunga yang baru kuncup, selanjutnya mengakibatkan kulit buah akan berbintik- bintik cokelat. Hal tersebut tentunya mengakibatkan kualitas buah turun serta harganya pun menjadi rendah: Pengendalian hama semut pada budidaya buah naga organik dilakukan dengan menaburkan kapur di sekitar batang utama.

Demikian panduan cara budidaya buah naga organik, semoga bermanfaat. (Penulis: Susilo A.H., dikutip dari Majalah Sinar Tani)

Comments

comments

tags:

Artikel terkait Budidaya Buah Naga Organik, Hasil Melimpah