Menu

Stop Pembakaran Jerami, Ini Cara Pengomposan Jerami In Situ di Sawah

March 10, 2017 | Teknik Pertanian

Jerami merupakan bahan organik potensial yang paling banyak dimiliki oleh petani padi. Sebagai sumber bahan organik tanah, pemberian jerami padi dapat dibedakan menjadi tiga macam, 1). pemberian jerami padi dalam bentuk brangkasan kering, 2). pemberian jerami dalam bentuk abu dan 3). pemberian dalam bentuk kompos setelah dilakukan pengomposan jerami. Pemberian jerami dalam bentuk kompos memberikan pengaruh terbaik terhadap serapan hara N dan K, diikuti bentuk brangkasan kering kemudian terendah adalah bentuk abu.

Berdasarkan data luas panen padi di Indonesia sekitar 13,8 juta hektar dengan produksi jerami 5 ton/ha, maka jerami segar yang tersedia sebesar 69,18 juta ton. Rendemen kompos yang dibuat dari jerami kurang lebih 50-60% dari bobot awal jerami. Jika semua produksi jerami segar dapat dipakai untuk pupuk organik maka lahan yang dapat dipupuk kompos jerami dengan takaran 5 ton/hektar mencapai 6,9 juta hektar.

Keberlimpahan jerami di sawah tersebut harus dimanfaatkan untuk menambah bahan organik tanah. Akan tetapi prakteknya masih banyak petani yang membakar jerami setelah panen padi. Banyak alasan jerami dibakar karena petani belum banyak menerapkan pengomposan jerami. Sosialisasi cara pengomposan jerami perlu ditingkatkan untuk mengurangi praktek pembakaran jerami di sawah. Pengomposan jerami dapat dilakukan secara in situ yaitu dilakukan di sawah tanpa membawa keluar jerami dari sawah. Lantas bagaimana cara pengomposan jerami secara in situ?

Pengomposan

Pengomposan merupakan proses humifikasi bahan organik tidak stabil (rasio C/N >25) menjadi bahan organik stabil yang dicirikan oleh pelepasan panas dan gas dari bahan yang dikomposkan. Percepatan pengomposan jerami dapat dilakukan dengan pencacahan bahan jerami, penggunaan mikroba pengompos (dekomposer) unggul dengan dosis maksimum, penggunaan bahan pelemah lignin, dan penambahan bahan starter (pemacu perkembangan mikroba).

Pengomposan Jerami In Situ di Sawah

Pengomposan Jerami In Situ di Sawah

Manfaat

Jerami padi sebagai bahan organik dapat meningkatkan suplai unsur hara tanah. Kandungan hara NPK dan S dalam jerami berturut-turut adalah K 1,2-1,7 %, N (0.5-0.8 %), P (0.07-0.12 %), dan S (0.05-0.10 %. Setiap ton jerami mengandung 7 kg N, 1 kg P2O5, 14,5 kg K2O dan unsur hara lainnya.

Pemberian kompos jerami 5 ton/ha yang ditambah dengan pupuk N sampai dengan takaran 50 % dari rekomendasi dapat meningkatkan hasil tanaman padi. Hal ini disebabkan serapan nitrogen tanaman padi sawah yang diberi pupuk organik lebih tinggi meskipun nitrogen yang diberikan hanya 50–75 % dari rekomendasi.

Penggunaan kompos jerami sebanyak 5 ton/ha dapat mengurangi penggunaan pupuk KCl sebanyak 50% dari jumlah kebutuhan pupuk tanpa penggunaan bahan organik.

Pemberian 2,5 ton jerami padi/ha dapat mengurangi kebutuhan KCl dari 100 kg/ha menjadi 75 kg/ha dan efektif meningkatkan hasil gabah.

Selain itu pemberian 10 ton jerami padi dapat meniadakan pemberian pupuk Kalium dan hasil yang diperoleh tidak berbeda nyata dengan pemberian 100 kg KCl/ha, sekaligus efektif mengurangi keracunan besi.

Bahan organik selain sebagai sumber karbon, juga sebagai sumber energi untuk mendukung kehidupan dan berkembangbiaknya berbagai jenis mikroba dalam tanah. Beberapa mikroba yang terkandung dalam bahan organik dapat melarutkan hara P dan K, mendekomposisi sisa tanaman dan transformasi hara, sehingga hara yang ada di dalam tanah menjadi lebih tersedia bagi tanaman.

Pemberian kompos jerami juga dapat meningkatkan struktur tanah dan sifat fisik tanah. Pemberian kompos jerami padi sebanyak 10 ton/ha nyata menurunkan nilai bobot volume tanah dan memperbaiki permeabilitas tanah.

Prosedur Pengomposan

  1. Persiapan bahan
  • Jerami, dicacah sampai berukuran 1-3 cm (Mesin pencacah jerami APPO, Mektan).
  • Agen pengompos (dekomposer) unggul dari kelompok fungi perombak lignin dan selulosa dengan dosis ganda, misalnya dosis biasa 1 kg menjadi 2 kg per ton jerami.
  • Larutan gula (gula pasir atau gula aren) 1/4 kg dilarutkan dalam 5-10 L air per ton jerami sebagai bahan pemacu pekembangan mikroba dekomposer (starter) atau 2,5 kg urea per ton jerami.
  • Kapur sebagai sebagai bahan pelemah lignin. Diberikan dalam bentuk tepung atau diencerkan dengan air, dosis 5 kg per ton jerami.
  • Plastik penutup kompos warna gelap (tidak transparan).
  1. Tahap Kerja
    • Cacahan jerami ditumpuk memanjang di pinggir galengan sawah lapis demi lapis (tebal lapisan 20 cm), tinggi dan lebar tumpukan maksimum 100 cm.
    • Tiap lapisan jerami ditaburi atau dibasahi dengan larutan kapur, kemudian larutan starter gula (atau urea), terkahir agen pengompos.
    • Tumpukan jerami yang sudah diinokulasi ditutup rapat dengan plastik penutup warna gelap. Penutupan ini untuk memerangkap panas, mengurangi penguapan atau pemanasan langsung terik matahari serta melindungi kompos dari pencucian hara dan pembasahan oleh air hujan.
    • Pembalikan kompos dilakukan pada hari ke-3 untuk aerasi dan pelembaban bahan dengan air (bila kering), kemudian ditutup kembali dengan plastik gelap sampai hari ke-7 atau kompos matang

kompos

Indikasi Kompos Matang

  • Terjadi pengurangan volume kompos jerami >1/3 bagian (tinggi semula 100 cm menjadi sekitar 60 cm).
  • Kompos berwarna gelap (coklat atau coklat kehitaman)
  • Kompos beraroma fermentasi, tidak berbau tengik atau bau menyengat (busuk).

Pengomposan Tunggul Jerami

Tunggul jerami yang tertinggal di lahan juga perlu dilakukan pengomposan. Caranya yaitu dengan aplikasi biodekomposer . Biodekomposer adalah komponen teknologi perombak bahan organik, diaplikasikan 4 kg/ha dicampur secara merata dengan 400 liter air bersih. Setelah itu larutan biodekomposer disiramkan atau disemprotkan merata pada tunggul jerami pada petakan sawah, kemudian digelebeg dengan traktor, tanah dibiarkan dalam kondisi lembab dan tidak tergenang minimal 7 hari.

Biodekomposer mampu mempercepat pengomposan jerami secara insitu dari 2 bulan menjadi 3-4 minggu. Pengomposan jerami dengan aplikasi biodekomposer mempercepat residu organik menjadi bahan organik tanah dan membantu meningkatkan ketersediaan hara NPK di tanah, sehingga meningkatkan efisiensi pemupukan dan menekan perkembangan penyakit tular tanah.

Artikel terkait Stop Pembakaran Jerami, Ini Cara Pengomposan Jerami In Situ di Sawah