Menu

Sistem Tanam Padi di Indonesia

May 21, 2018 | Tanaman Pangan

Indonesia mempunyai banyak ragam sistem tanam padi. Selama bertahun-tahun petani menanam padi dengan sistem tegel. Dalam perkembangannya Pemerintah merekomendasikan sistem tanam jajar legowo (jarwo). Namun di beberapa daerah juga ditemukan cara budidaya padi yang spesifik lokasi.

Sistem Tanam Padi

Sistem Tanam Padi Di Indonesia

Tegel

Sistem tanam tegel merupakan sistem tanam padi yang telah lama dipraktekkan oleh petani. Jarak tanam yang membentuk kotak-kotak menyerupai tegel sehingga disebut sistem tegel. Jarak tanam yang biasa digunakan anatara laian 25 x 25 cm, 30 x 30 cm, dll.

Jarwo

Sistem tanam jajar legowo (Jarwo) merupakan perbaikan dari sistem tegel. Dulu petani senangnya dengan sistem tegel. Tetapi ternyata hasilnya kurang maksimal karena beberapa tanaman tidak terkena sinar matahari yang cukup. Akhirnya ditemukan teknologi baru, yakni jajar legowo yang hasilnya luar biasa lebih maksimal.

Sistem tanam legowo merupakan cara tanam padi sawah dengan pola beberapa barisan tanaman yang diselingi satu barisan kosong. Tanaman yang seharusnya ditanam pada barisan yang kosong dipindahkan sebagai tanaman sisipan di dalam barisan.

Penerapan sistem tanam padi legowo disarankan menggunakan jarak tanam (25 x 25) cm antar rumpun dalam baris, 12,5 cm jarak dalam baris dan. 50 cm sebagai jarak antar barisan (25 x 12,5 x 50) cm.

Dengan jajar legowo, serangan OPT dapat ditekan karena hampir seluruh padi yang ditanam terkena sinar matahari.

Tabela

Teknologi tanam benih langsung (Tabela) memiliki beberapa keunggulan. Misalnya, memperpendek periode produksi padi, sehingga meningkatkan indeks pertanaman dan mengurangi biaya tenaga kerja untuk tanam.

Sistem tanam padi tabela dapat diterapkan pada agroekosistem sawah irigasi, sawah tadah hujan, dan lahan pasang surut. Kekhususan Tabela adalah tidak melakukan tanam pindah, tapi benih ditabur secara langsung.

Konsekuensi dari Tabela adalah lahan memerlukan pengolahan tanah dan pengaturan air yang berbeda dengan lahan untuk tanam pindah. Tabela sesuai diterapkan

pada wilayah yang kekurangan tenaga kerja, musim hujan pendck, dan air irigasi dapat diatur.

Kebutuhan benih untuk penanaman padi dengan tabela membutuhkan benih sekitar satu setengah kali lebih banyak dibandingkan cara tanam pindah, kebutuhan benih mencapai 30-40 kg/ha.

Sebelum benih disebar terlebih dahulu direndam air selama 12 jam, lalu dikeringkan dan diangin-anginkan selama 12 jam. Setelah itu, benih dapat langsung disebar di petak sawah dengan menggunakan atabela (alat tanam benih langsung).

Hazton

Hazton diambil dari dua peneliti pencetus sistem tanam padi ini, yakni Hazairin dan Anton. Teknologi Hazton sudah dikembangkan di Kalimantan barat. Dengan menggunakan teknologi ini, dapat meningkatkan produksi hingga dua kali lipat.

Selama ini rata-rata produktivitas tanaman padi di adalah 3,5 ton/ ha. Tapi dengan menggunakan system tanam Hazton dapat meningkat hingga 10 ton/ha.

Konsep teknologi Hazton adalah menanam bibit padi dalam 1 lubang yang biasanya hanya 5 bibit menjadi 20 bibit. Bibit tersebut tidak menghasilkan anakan, melainkan induknya semua. Jadi hasilnya lebih maksimal/’ jelas Hazairin.

Sistem tanam hazton menggunakan bibit tua, yakni 25-30 setelah semai. Dengan jumlah bibit yang ditanam 20-30 batang per lubang tanam. Pada daerah endemik keongmas, drainase kurang bagus, dan tanahnya mcngandung besi yang tinggi (bisa menyebabkan keracunan) maka penerapan teknologi Hazton bisa menjadi salah satu solusi cerdas.

Salibu

Teknologi salibu adalah tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa di panen, akan muncul tunas yang baru dari buku yang ada di dalam tanah. Tunggul setelah panen tanaman utama yang tingginya sekitar 25. cm, dipelihara selama 7-10 hari atau dibiarkan hingga keluar tunas baru.

Jika tunas yang keluar kurang dari 70%, maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu. Jika tunas yang tumbuh lebih dari 70%, maka potong kembali secara seragarn hingga ketinggian 3-5 cm, kemudian dipelihara dengan baik hingga panen.

Tunas ini akan mengeluarkan akar baru, sehingga supply hara tidak tergantung lagi pada batang yang lama. Tunas ini dapat membelah lagi seperti tanaman pindah biasa, sehingga membuat pertumbnhan dan produksinya sama atau lebih dari tanaman pertama.

Keuntungan sistem tanam salibu adalah hemat benih, air, biaya, tenaga kerja, hasil meningkat, meningkatkan pendapatan petani dan ramah lingkungan.

Syarat utama budidaya padi salibu adalah bukan daerah endemik hama penyakit, ketersediaan air mudah dikondisikan dan cukup, tidak terjadi genangan dan kekeringan dalam tempo.yang lama. Budidaya salibu dapat dilakukan di lahan apapun. Lahan irigasi, tadah hujan, pasang surut dapat diterapkan dengan baik.

Selain itu, kondisi lahan dengan drainase baik, serta kondisi air tanah pada saat 2 minggu sebelum dan setelah panen sebaiknya dalam kondisi lembab.’

Demikian sistem tanam padi yang dikembangkan di Indonesia. Sistem mana yang cocok untuk lahan Anda?

Comments

comments

tags:

Artikel terkait Sistem Tanam Padi di Indonesia